#1

 



(Ceritanya) Tikus


Kisahlah ia sang pengerat pengembara

Manakala matanya terseret sangkar emas

Surga nian, pikirnya

Entah karena gemuruh cernanya yang telah bernyanyi

Atau karena asa yang mengelabui

Menderap kaki kecilnya

Sepersekian detik

Sebelum derit gerbang mengundang bayang

 

Ia telah diundang

Dalam sebuah fortuna mahkota

Atau

Permainan melompat ngarai

 

Kisahlah ia sang pengerat pengembara

Menjejak di papan pertaruhan

Berbalut kelam armor jelaga

Mengisi garda terdepan

Tidak, ia terlalu takut untuk menghunus pedang

Atau sekedar menarik anak panah

Ia hanya melangkah satu atau dua

Menunggu titah Siluet Mahkota

 

Namun, bukankah tapak kecilnya

terlanjur mengukir berkas jelaga?

Melekatkan stempel pada secarik surat

Undangan istimewa itu telah sampai

Pada Yang Dipertuan Antartika

Kisahlah ia sang pengerat pengembara

Manakala derapnya terhimpit askar putih

Amat sesak, hingga ke gigi pengeratnya

Jantung empat ruangnya, tak pernah berpacu lebih cepat

Lembar papan itu, kini adalah pasir di tepi ngarai

 

Pedang di genggaman pengeratnya

Telah mengukir noda untuk pertama kalinya

 

Dan papan bujur sangkar itu kembali memasang kamuflasenya

 

Kisahlah ia, sang pengerat pengembara

Manakala tak lagi terdengar gemuruh cernanya

Menjelma menjadi sorot ganas di celah pupilnya

Mengukir ribuan noda baru pada pedangnya

Riuh cicit pengeratnya

Kini mulai terdengar, hingga ke kilau singgasana

 

Namun, ia sejatinya hanyalah pengerat pengembara

Dengan noda yang telah menjalar hingga ke genggaman jarinya

Perlahan tenggelam dalam pekat kelabu

Terjebak dalam tarik ulur adidaya mahkota

Yang ironisnya,

Tak akan pernah tersentuh ekor pengeratnya

 

Kisahlah ia sang pengerat pengembara

Manakala jemari pengeratnya tersandung serpihan Antartika

Melepaskan pedangnya, terlempar dari genggamannya

Merangkak di bawah bayang para askar putih

Cicit pengeratnya menggema, mencekat di telinga seantero bidak hitam

Namun, siapa yang hendak peduli pada seekor pengerat pengembara?

 

Cicitnya perlahan memudar, jejaknya tersapu abu pertandingan

 

 

,,,

 

 

 

Siluet Mahkota itu menyilangkan kaki di atas kursi malasnya

Melekatkan pandangannya pada arena pertandingan

Berdecak pelan,

 

 

 

 

Menyeringai dari balik layar.

 

Komentar

Postingan Populer